Besaran dan Satuan

           Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat kegiatan kegiatan yang berhubungan dengan pengukuran. Sebagai contoh, para pedagang sembako melakukan penimbangan terhadap massa barang sembako untuk dijual secara eceran. Para penjahit pakaian melakukan pengukuran terhadap panjang atau lebar kain untuk disesuaikan dengan ukuran badan seseorang yang memesan. Para pekerja mebel juga melakukan pengukuran terhadap panjang kayu sesuai dengan ukuran dari jenis mebel yang dibuat. Demikian pula seseorang yang akan mendirikan bangunan, maka akan melakukan pengukuran terhadap panjang dan lebar tanah sehingga dapat menentukan luas  bangunannya.

            Kegiatan pengukuran seperti contoh di atas berkaitan dengan besaran yang diukur dan satuan. Untuk memahami hal-hal tersebut, maka akan kita bahas  sebagai berikut:
1.1.  Pengukuran dan Satuan

Coba kalian letakkan pensil di atas meja seperti gambar 1.1. Benda mana yang lebih panjang? Tentu saja lebih panjang meja. Apabila kita bandingkan panjang meja dengan panjang pensil tersebut. Maka kita akan mendapatkan bahwa panjang meja adalah sekian kali panjang pensil. Kegiatan yang kalian lakukan baru saja tidak lain  membandingkan besaran panjang meja dengan besaran panjang pensil. Kegiatan tersebut disebut mengukur suatu besaran. Jadi mengukur adalah membandingkan suatu besaran dengan besaran sejenis yang digunakan sebagai satuan.
Apabila kalian mengukur panjang meja tulis  dengan penggaris. Maka kalian membandingkan panjang meja dengan panjang penggaris. Hasil pengukuran tersebut kita nyatakan dengan angka dan diberi satuan, yaitu misalnya panjang meja 120 cm. Panjang adalah contoh dari besaran. Jadi besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka. Suatu besaran pada umumnya memiliki satuan.
            Untuk melakukan pengukuran suatu besaran, maka digunakan alat ukur. Berikut ini akan kita bahas beberapa alat ukur, yaitu;

1.1.1        Alat ukur panjang.

  1. Penggaris.
Ada beberapa jenis penggaris sesuai dengan skalanya. Penggaris yang umum digunakan adalah penggaris berskala mm, yaitu penggaris yang skala terkecilnya adalam 1 mm atau 0,1 cm.
Posisi mata saat melakukan pengukuran adalah tegak llurus denganpenggaris.

Hasil pengukuran panjang batang dengan penggaris pada gambar 1.3 adalah 1,7 cm
 


Jika posisi mata saat membaca skala tidak tegak lurus pada skala alat ukur, maka hasil pengukuran tidak tepat. Ketidak tepatan hasil pengukuran akibat posisi mata yang tidak tepat disebut kesalahan paralaks.

  1. Jangka sorong
Description: DSCN2306
Jangka sorong adalah alat ukur panjang yang memiliki ketelitian 0,1 mm. Jangka sorong digunakan untuk mengukur deameter suatu tabung atau kawat. Atau tebal suatu benda. Seperti terlihat pada gambar 1.4, jangka sorong terdiri dari rahang bawah dan rahang atas. Rahang bawah untuk mengukur demeter luar suatu tabung. Deameter atas digunakan untuk mengukur damater bagian dalam suatu tabung.
Rahang geser jangka sorong dapat digeser secara bebas disesuaikan dengan ukuran benda. Pada rahang geser terdapat skala nonius yang terbagi 10 skala. Pada rahang tetap terdapat skala utama dalam satuan cm. Panjang skala nonius adalah 9 cm yang terbagi dalam 10 skala sehinggapanjang 1 skala nonius adalah 0,9 mm Selisih skala utama dan skala nonius adalah 0,1 mm. Hasil pengukuran dengan jangka sorong adalah;
X =  hasil pada skala utama + hasil pada skala nonius.
Misalkan jangka sorong digunakan untuk mengukur deameter suatu tabung. Kedudukan skala nonis  terhadap skala utama seperti gambar berikut:

  1. Mikrometer
Mikrometer atau sering disebut juga micrometer skrup adalah alat ukur panjang yang memiliki ketelitian 0,01 mm atau 0,001 cm. Mikrometer biasanya digunakan untuk mengukur tebal benda-benda yang sangat tipis seperti kertas.
Description: DSCN2304


Bagian utama micrometer adalah poros berulir yang dipasang pada silinder pemutar yang disebut bidal. Keliling silinder pemutar dibagi 50 bagian atau skala yang sama besar. Jika bidal akan bergerak maju 0,5 mm jika diputar satu kali putaran. Dengan demikian jika bidal diputar satu skala maka akan bergeser 0,5 mm/50 = 0,01 mm atau 0,001 cm. Hasil pengukuran dengan micrometer adalah:
            X = hasil pada skala utama + hasil pada skala bidal.
Sebagai contoh hasil pengukuran tebal suatu benda dengan micrometer sebagai berikut:

1.1.2 Mengukur besaran massa
            Massa suatu benda menyatakan banyaknya materi yang dikandung suatu benda. Massa suatu benda tidak dipengaruhi oleh letak suatu benda tersebut. Untuk mengukur massa suatu benda digunakan neraca atau timbangan. Prinsip kerja neraca atau timbangan adalah  sama dengan tuas Terdapat beberapa jenis neraca, seperti neraca pasar, neraca lengan, neraca ohauss tiga lengan, neraca ohauss empat lengan, neraca digital.
Description: DSCN2299
 
Text Box:










Gambar 1.10 neraca ohauss tiga lengan

 
 










Untuk neraca ohauss tiga lengan, masing-masing lengan memiliki skala yang dilengkapi dengan beban geser  sebagai berikut;
  1. untuk lengan belakang memiliki skala 0 – 500 gram
  2. untuk lengan tengah memiliki skala 0 – 100 gram
  3. untuk lengan depan memiliki skala 0 – 10 gram.
Hasil pengukuran massa dengan neraca ohauss tiga lengan adalah jumlah dari hasil pembacaan pada skala ketiga lengan.

1.1.3 Mengukur besaran waktu


Gambar 1.11 Arloji model pendulum (sumber Encarta)
 



            Berapa lama waktu perjalanan kalian dari rumah sampai sekolah? Dengan apa kalian mengukur lama waktu perjalanan tersebut? Ya untuk mengukur waktu biasanya kita menggunakan arloji atau jam. Alat ukur waktu yang lain adalah stopwatch. Contoh penggunaan stopwatch antara lain untuk mengukur lama waktu tempuh lomba lari jarak pendek, mengukur lama waktu tempuh pada perlombaan balap mobil, motor, sepeda pacuan kuda, dan lain-lain. Stopwotch memiliki ketelitian sampai dengan 0,1 s. Ada dua jenis stopwotc yang biasa digunakan  yaitu stopwotcg pegas dan stopwatch digital.

1.4.1 Bilangan eksak.
            Sudah kita bahas bahwa bilangan penting adalah bilangan yang diperoleh dari hasil pengukuran. Bilangan penting tersebut terdiri dari angka-angka yang sudah pasti kebenarannya karena dpat dibaca langsung pada skala dan satu angka terakhir yang diperkiraan atau di taksir.
            Apabila kalian menghitung jumlah siswa dalam kelasmu maka kalian akan mendapatkan hasil yang pasti, misalnya 40 siswa. Bilangan 40 yang kalian peroleh tersebut adalah bilangan eksak. Jadi bilangan eksak adalah bilangan yang sudah pasti kebenarannya dan diperoleh dari kegiatan membilang.

0 komentar:

Posting Komentar